Wednesday, July 20, 2016

Kurikulum & Guru Berkarakter Membentuk Siswa Berkarakter

Kurikulum, Guru  Berkarakter Membentuk Siswa Berkarakter

Pendahuluan
Fakta yang terlihat dalam  masyarakat tentang sangat menurunnya kualitas sikap dan moral anak-anak atau generasi muda, menimbulkan maraknya perbincangan bahwa pada saat ini diperlukan kurikulum yang berkarakter. Apakah kurikulum di masa lalu tidak memuat pendidikan karakter?  Jika kurikulum  terdahulu sudah kurikulum berkarakter, apakah kurikulum itu sendiri  telah memiliki karakter sehingga mampu membentuk karakter peserta didik? Tentu kurikulum  ditetapkan sudah sesuai dengan kondisi pada masa atau waktu itu.  Namun kurikulum dan guru  harus  berkarakter sehingga mampu membentuk siswa yang berkarakter. Namun sesungguhnya banyak factor yang terkait dengan pelaksanaan pendidikan, selain kurikulum dan guru, juga siswa itu sendiri, orang tua dan lingkungan.  Namun yang akan dibahas adalah kurikulum, guru dan goolnya yaitu siswa itu sendiri.
A. Kurikulum Berkarakter
Kurikulum merupakan rancangan pendidikan  yang berisi serangkaian proses kegiatan belajar siswa.  Oleh karena kurikulum adalah rancangan pendidikan yang berisi serangkaian proses kegiatan belajar siswa ,maka kurikulum tersebut perlu untuk selalu dieavluasi atau direvisi atau disempurnakan. Penyempurnaan/perbaikan kurikulum adalah hal yang wajar, dan perlu terus-menerus dilakukan dengan melihat kebutuhan yang berkembang dalam masyarakat dan kebutuhan peserta didik.
Di tengah majunya dunia teknologi, sangat mempengaruhi dunia pendidikan Indonesia. Generasi anak Indonesia sekarang lebih disibukkan permaiann game online (Pokemon go yang sedang trend), facebook, twitter, merokok, gank motor, nongkrong bareng (nobar), menggejalanya video seks, narkoba dan kegiatan lain yang menghabiskan waktu dan merusak kesehatan, sehingga hanya sedikit atau bahkan tidak ada waktu untuk belajar. Kebiasaan bernilai positif seperti keramahan, kejujuran dan kepedulian mulai hilang. Artinya bila ini terus berkelanjutan, maka Indonesia akan kehilangan generasi-generasi terbaiknya.  Kondisi ini jelas terlihat melanda anak muda Indonesia.
Setelah sekian lama kurikulum pendidikan Indonesia tidak memunculkan mata pelajaran  Budi Pekerti,  yang terbaru  perbaikan/penyempurnaan kurikulum terakhir yaitu kurikulum 2013 yang sekarang  diberi nama menjadi ‘Kurikulum Nasional’, kembali memunculkan Budi Pekerti yang dipadukan dengan pelajaran Pendidikan Agama : “Agama dan Budi Pekerti”.
Bagi guru yang peka bahwa betapa pentingnya pendidikan/pembentukan karakter bagi anak didik, sebenarnya tanpa dimunculkannya pun mata pelajaran  Budi Pekarti pada setiap topic /materi ajar, khususnys pendidikan Agama (Kristen) ketika menjelaskan topic/materi ajar, maka pada setiap akhir pembelajaran harus selalu dikaitkan dengan budi pekerti, yaitu penerapan/aplikasi khusus yang bisa dilakukan dalam kehidupan sehari-hari para siswa. Tidak hanya pelajaran Agama, tetapi juga  bidang studi yang lain (PKN, IPS, IPA, PLBJ dll)  sangat perlu untuk mengkaitkannya dengan budi pekerti/penerapan/yang bisa dipraktikkan para siswa dalam hidup sehari-hari.
Setiap guru  diharapkan mampu menguasai, meramu atau mendeskripsikan  kurikulum 2013 secara tepat, dan mampu meningkatkan kompetensi siswa sehingga siap menghadapi tantangan global. Sebab sekalipun kurikulum sudah berkarakter, namun jika guru tidak mampu meramu kurikulum tersebut dengan baik, maka kurikulum yang berkarakter tersebut tidak ada guna bagi siswa. Tetapi ketika kurikulum dan guru sudah berkarakter,  akan mampu menghasilkan para siswa sebagai penerus bangsa yang berkarakter.
 Kurikulum 2013 membentuk siswa untuk mampu melakukan  pengamatan/observasi secara langsung, lalu  membuat laporan atau  hasil dari pengamatan/observasi, Inilah yang disebut dengan  unjuk kerja  siswa/ performace task, ini dapat dilakukan secara  individu maupun kelompok, ini tergantung kebijakan guru.
Dalam kurikulum/pendidikan berkarakter setiap mata pelajaran mempunyai nilai-nilai tersendiri yang akan ditanamkan kepada siswa. Hal ini disebabkan karena adalanya keutamaan focus dari tiap mata pelajaran yang tentunya mempunyai karakteristik yang berbeda-beda.  Contoh: dalam Pendidikan Agama dan Budi Pekerti, nilai luhur atau nilai utama yang ditanamkan adalah: religius, jujur, santun, disiplin, ingin tahu, percaya diri, menghargai keberagaman, patuh pada aturan, social, sadar akan hak dan kewajiban, bergaya hidup sehat,  dan adil.  Penanaman nilai di atas diharapkan akan menjadikan peserta didik menjadi lebih berkarakter. Demikian halnya dengan pelajaran/bidang studi lain, masing-masing  mempunyai nilia-nilai khusus yang akan ditanamkan kepada setiap siswa. Tentang nilai-nilai luhur atau nilai utama ini, sangat tergantung pada guru. Mampukan guru mendeskripsikan nilai-nilai tersebut dengan baik serta tajam kepada para siswa?

B. Guru Berkarakter Membentuk Siswa Berkarakter
Guru adalah pendidik yang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak, baik perkembangan jasmani maupun rohani,  sebagai mahluk social dan individu yang  dewasa,  serta mampu berdiri sendiri. Guru merupakan sosok panutan bagi siswa dan masyarakat. Profesi sebagai guru diharapkan adalah sebagai panggilan. Dengan panggilan tersebut  akan memampukan guru untuk mengembangkan orang lain kearah kesempurnaan. Guru bertugas bukan hanya mendidik tetapi sekaligus  sosok teladan bagi siswa. Oleh karena itu berprofesi sebagai guru bukan sembarang pekerjaan karena memerlukan  berbagai kelebihan, baik kepribadian, spiritual, ahlak, pengetahuan dan keterampilan.
Ketika seorang anak mulai masuk dalam dunia sekolah, kata-kata dan perilaku guru lebih menarik perhatian anak  dibandingkan kata-kata dan perilaku orang tua. Ucapan guru diingat  dan dipercaya anak sedemikian rupa bahkan cara guru berkata-kata dan berjalan ditiru dengan tepat. Ini terjadi karena seorang anak cenderung untuk meniru apa yang dilihatnya. Artinya dengan keteladanan seorang guru, dapat  membentuk kepribadian si anak/siswa, untuk jangka waktu yang lama yaitu  berahlak  mulia. Oleh karena kecenderungan meniru inilah maka keteladanan dari guru lebih baik dan lebih efektif dalam mendidik dibandingkan dengan  petuah atau nasehat.

Bagaimana Menjadi Guru Berkarakter?
1.     Senyum, Salam, Sapa
Senyum, salam, sapa harus dibudayakan di lingkungan sekolah. Guru yang ramah, murah senyum dan mau menyapa pasti disenangi semua siswa. Oleh karena itu dalam keadaan sesibuk apapun diharapkan guru mampu memberi senyum, memberi salam dan  menyapa.
2.    Pemaaf
Dalam kesehariannya sebagai guru yang selalu bertemu dengan siswa yang berbeda latar belakang, termasuk siswa yang sudah membawa masalah dari rumah, siswa yang sengaja membuat guru menjadi kesal, selalu menjadi biang keladi keributan di kelas ini adalah hal biasa yang dijumpai seorang guru. Diharapkan guru tidak menamkan kebencian kepada siswanya, tetapi memaafkan lalu melakukan pendekatan pribadi dengan siswa-siswa yang bermasalah.
3.    Perkataan dan perbuatan selaras
Dengan perkataan dan perbuatan yang selaras akan menanamkan pemahaman yang konsisten kepada siswa. Artinya guru tidak hanya menyampaikan secara teori saja tetapi juga  melakukan atau mempraktikkannya.
4.    Adil/Tidak pilih kasih
Berusaha untuk selalu adil juga menjadi ciri guru yang berkarakter. Mampu memperlakukan siswa dengan adil dan tidak pilih kasih.
5.    Mengontrol emosi.
Guru masa kini  dituntut untuk memiliki kecerdasan menguasai emosi. Suatu kemampuan untuk mengolah dan mengontrol emosi agar dapat merespon secara positif setiap kondisi yang muncul dari siswa.
6.    Tidak Otoriter
Guru berkarakter tidak menjadi penguasa di kelas, tetapi member pemahaman kepada siswa bahwa peraturan sekolah ditegakkan adalah demi kebaikan warga sekolah. Sebaiknya ketika peraturan sekolah dibuat perlu melibatkan siswa untuk membuat kesepakatan-kesepakatan, karena sudah saatnya  menumbuhkan budaya musyawarah atau dialog, sehingga ketika terjadi pelanggaran maka siswa akan rela menerima konsekuensinya karena sudah disepakati secara bersama.
7.    Menegur kesalahan dengan kata-kata bijak
Menengur tanpa membuat siswa tersinggung, memberi teguran dengan memperhatikan kondisi/situasi, memilih kata-kata sopan dan halus. Hindari bersikap jengkel kepada siswa yang ditegur, sehingga tidak menimbulkan kesan hanya melampiaskan kekasalan guru saja.

8.    Menjadi sahabat yang baik
Guru yang mampu menempatkan diri sebagai sahabat yang baik akan membuat siswa menjadi merasa dekat dan nyaman. Kedekatan dan rasa nyaman sangat penting kaitannya dengan motivasi dan semangat siswa dalam proses pembelajaran.
9.    Penuh kasih sayang, tetapi tegas
Penuh kasih sayang bukan berarti tidak bisa tegas. Penuh kasih sayang dalam artian ketika siswa melakukan kesalahan tetap harus ada konsekuansi yang diberikan, namun harus benar-benar diberi pengertian kepada siswa bahwa konsekuensi dari kesalahan harus diterima, karena konsekuensi itu diberikan sebagai peringatan, wujud kasih sayang dari guru, agar tidak mengulangi lagi kesalahan yang sama. 
10. Paham latar belakang siswa
Dengan memahami latar belakang siswa akan memudahkan  guru mengembangkan metode pengajaran yang tepat guna mempernudah daya serap siswa. Dengan memahami latar belakang siswa diharapkan guru memperlakukan siswa sebagai pribadi-pribadi yang unik dan memiliki cirri tersendiri. Diharapkan guru mampu menghargai setiap kelebihan dan kekurangan setiap siswa.

11.  Suka memberi pujian ketika anak didik berprestasi/ lebih baik (nilai dan sikap)
Suka memberi pujian merupakan merupakan magnit positif bagi siswa untuk lebih baik, semakin maju.
12. Rendah hati
Rendah hati  adalah pribadi yang bijak, dapat memposisikan dirinya sama  dengan orang lain. Tidak merasa lebih baik,  kaya, cantik/ganteng, mahir, lebih tinggi atau lebih mulia, menghargai secara tulus setiap siswa dengan keunikannya masing-masing sebagai ciptaan Tuhan.
13. Komunikasi intensif
Kemampuan berkomunikasi secara intensif sangat diperlukana dalam pembelajaran, baik di kelas maupun di luar kelas. Intonasi yang dapat dimengerti, sopan, mempunyai nilai-nilai relijius, akan sangat menyejukkan siswa.
14. Mampu dan selalu  memberi motivasi
Mampu meyakinkan para sisiwanya bahwa mereka memiliki potensi untuk berubah kearah yang lebih baik, dapat beranjak dari kemiskinan dan kebodohan, dan dapat hidup lebih baik sehingga memiliki kehidupan yang sukses dimasa mendatang. Motivasi kepada peserta didik harus terus di tanamkan sehingga tumbuh kepercayaan diri dalam diiri mereka bahwa mereka dapat menjadi orang yang mandiri, cerdas dan bermasa depan cerah.
15. Berkepribadian yang arif
Dalam kesehariannya bersama siswa dalam kelas dibutuhkan kemampuan untuk bersikap bijaksana atau berkepribadian yang arif, sehingga siswa tidak merasa diperlakukan dengan tidak baik.
16. Menjadi teladan bagi teman sejawat dan peserta didik.
Menjadi teladan artinya menjadi sosok yang digugu, dicontoh dan dihormati oleh sesama guru dan peserta didik karena.
17. Menghargai setiap siswa
Setiap siswa mempunyai harga diri, hak-hak pribadi dan kehormatan. Dengan guru menghargai siswa akan membuat siswa merasa diperhatikan dan ini menambah rasa percaya diri siswa yang dapat menambah semangat belajarnya
18. Mampu menjadi orang tua kedua bagi anak didik.
Selama di sekolah guru adalah sebagai orang tua bagi setiap siswa, sehingga harus bertanggung jawab penuh terhadap setiap siswa sepanjang jam sekolah. Sebagaimana setiap orang tua menyayangi anak-anaknya demikian kiranya guru juga harus dengan tulus menyayangi setiap siswa.
19.  Mencintai profesi guru.
Seorang guru yang mencintai profesinya akan berusaha semaksimal mungkin, mencurahkan perhatian, keahliannya untuk siswa-siswanya.
20.Menerima masukan dari siswa
Tidak merasa benar sendiri, dan bersedia menerima masukan atau informasi ilmu pengetahuan dari siswa adalah ciri seorang guru berkarakter.


Kesimpulan

Tiga hal penting sebagai berikut:
1. Kurikulum  perlu untuk selalu dieavluasi atau direvisi atau disempurnakan. Penyempurnaan/perbaikan kurikulum perlu terus-menerus dilakukan dengan melihat kebutuhan yang berkembang dalam masyarakat dan kebutuhan peserta didik dan melestarikan nilai-nilai budaya bangsa
·        2. Guru berkarakter  menjadi kata kunci dalam  usaha membentuk siswa yang berkarakter.

·         3. Diperlukan kesiapan kurikulum berkarakter, guru berkarakter untuk membentuk pribadi/siswa yang berkarakter dalam mewujudkan tujuan-tujuan pendidikan

Kiranya berguna bagi sahabat guru. Baca juga : Bahagia Menjadi Guru Idola.



No comments:

Post a Comment